
Gen Z sering disebut sebagai generasi multitasking karena mampu berpindah fokus dari satu hal ke hal lain dengan cepat, mendengarkan musik sambil membuat tugas, mengedit video sambil membalas chat, atau diskusi grup sambil scroll TikTok. Meski terlihat produktif, ada fenomena menarik yang kini banyak dibicarakan: Gen Z mudah merasa bosan, bahkan ketika sedang mengerjakan hal yang sebenarnya mereka sukai.
Fenomena ini tidak muncul tanpa alasan. Dunia digital yang serba cepat, notifikasi tanpa henti, hingga budaya “switching” menjadi bagian dari ritme hidup Gen Z. Artikel ini membahas penyebabnya, dampaknya, dan bagaimana anak muda bisa mengatasi rasa bosan di era multitasking ekstrem.
Multitasking Digital Mengubah Cara Otak Bekerja
Multitasking yang berlebihan membuat otak:lebih mudah terdistraksi,sulit mempertahankan fokus dalam waktu lama,cepat kehabisan energi mental,menginginkan stimulasi baru secara terus-menerus.Dengan kata lain, multitasking digital membuat otak terbiasa dengan pergantian aktivitas cepat, sehingga ketika harus fokus pada satu tugas, muncul rasa “bosan” atau “gelisah”.
Arus Konten Cepat = Attention Span Menyusut
Rata-rata attention span manusia kini turun menjadi 8 detik, lebih pendek dari ikan mas. Faktor utama: konsumsi konten cepat (TikTok, Reels, Shorts), notifikasi yang mendorong otak mencari dopamine hit, informasi berlimpah setiap detik. Gen Z terbiasa mendapatkan hiburan atau stimulasi secara instan, membuat tugas yang membutuhkan fokus panjang tampak membosankan.
Terjebak Pola “Dopamine Chase”
Konten digital memberikan lonjakan dopamine cepat. Akibatnya, otak mulai mencari sesuatu yang lebih menarik, hal baru yang memberi sensasi “reward”, aktivitas yang tidak menguras energi mental. Akhirnya muncul fenomena: sering memulai banyak hal, tetapi jarang menyelesaikan.
Tekanan Sosial Membuat Gen Z Cepat Lelah
Generasi multitasking bukan hanya karena teknologi, tetapi juga tekanan generasi harus cepat sukses, harus produktif, harus bisa berbagai skill, harus selalu update informasi. Kombinasi tekanan + multitasking membuat energi mental cepat habis sehingga rasa bosan muncul lebih cepat sebagai bentuk kelelahan kognitif (cognitive fatigue).
Bosan Tidak Selalu Buruk, tetapi Tanda Tubuh Butuh Rehat
Kebosanan pada generasi multitasking sebenarnya bisa menjadi tanda: otak butuh reset, tubuh butuh jeda, fokus perlu disusun ulang, dan prioritas harus ditegaskan. Menariknya, kebosanan ringan bisa memicu kreativitas, asalkan dikelola dengan baik, bukan diisi dengan “scroll tanpa arah”.
Cara Gen Z Mengatasi Rasa Bosan di Era Multitasking
Berikut teknik yang efektif:
- Single-tasking 20 menit, gunakan teknik Pomodoro (20 menit fokus + 5 menit jeda)
- Kurangi notifikasi non penting, lebih sedikit “dopamine hits” berarti fokus lebih stabil.
- Kerjakan tugas paling berat saat energi pagi masih penuh
- Gunakan sistem rotasi kerja (task rotation), bukan multitasking: 1 jam fokus → ganti tugas yang berbeda, bukan dikerjakan bersamaan.
- Buat “dopamine sehat” dengan olahraga ringan, journaling, belajar sesuatu tanpa layar, meditasi 2–5 menit
- Bangun rutinitas yang stabil, otak menyukai pola tetap untuk mengurangi kelelahan mental.
Program Magang Online yang Cocok untuk Gen Z Multitasker
Bagi Gen Z yang sering multitasking tetapi ingin tetap produktif, Satu Magang menawarkan solusi belajar dan berkembang tanpa stres berlebihan.
- ✔ Program terverifikasi BNSP
- ✔ Cocok untuk mahasiswa multitasker karena sistemnya fleksibel
- ✔ Materi mudah dipahami dan tidak menguras mental
- ✔ Ada bimbingan step-by-step dari mentor
- ✔ Tugas terstruktur sehingga tidak membuat burnout
- ✔ Bisa dapat sertifikasi kompetensi digital marketing BNSP
- ✔ Portofolio real yang bisa langsung dipakai melamar kerja
Satu Magang membantu Gen Z membangun smart career path dengan cara yang tidak membebani mental dan tetap sesuai gaya hidup digital.
Generasi multitasking bukan malas, tetapi hidup dalam ekosistem digital yang secara alami membentuk otak untuk berpindah fokus dengan cepat. Akibatnya, rasa bosan muncul lebih cepat, meski sedang melakukan hal yang disukai.
Memahami penyebab biologis dan psikologis dari kebosanan membantu Gen Z mengatur ulang ritme hidup. Dengan manajemen fokus yang sehat, multitasking bisa menjadi kekuatan, bukan penghalang.
Bosannya Gen Z bukan tanda lemah, tetapi tanda tubuh dan pikiran sedang berusaha beradaptasi dengan dunia yang bergerak terlalu cepat. Dengan strategi yang tepat dan lingkungan belajar yang mendukung, sseperti program Satu Magang yang fleksibel dan terverifikasi BNSP, Gen Z bisa tetap produktif tanpa kehilangan kesehatan mental.